6 Tips Membuat Portfolio untuk Freelancer

Freelancers

6 Tips Membuat Portfolio untuk Freelancer

portfolio freelancer
Photo by Domenico Loia on Unsplash

Membuat portfolio adalah salah satu hal yang harus dilakukan untuk para freelancer yang sedang mencari klien. Secara umum, portfolio adalah cara untuk menampilkan koleksi dari karya atau hasil terbaik kepada para calon klien.

Nah, portfolio ini dapat berisikan bukti skill atau kemampuan yang kamu miliki seperti misalnya karya ilustrasi atau content writing. Beberapa jenis portfolio di antaranya dalam bentuk video, foto, tulisan, sertifikasi atau lisensi, website, dan lain-lain.

Sebelum membangun atau mempebaharui portfolio-mu, ada beberapa tips yang bisa kamu ikut, nih. Apa saja ya tips-tips tersebut?

1. Tampilkan Karya Terbaikmu

Tony Haile melalui Time.com menemukan bahwa ternyata waktu rata-rata yang dihabiskan oleh pembaca untuk melihat situs web portfolio adalah sekitar 15 detik.

Dalam waktu yang singat tersebut, sebaiknya kamu memilih karya-karya terbaiknya untuk ditampilkan pada halaman pertama. Ketika pembaca merasa tertarik, maka mereka akan menghabiskan banyak waktu dan bahkan melihat secara detail hasil kerjamu.

2. Sederhana dan Informatif

Desain portfolio yang menarik tidak harus kompleks dan sulit untuk diakses. So, tips portfolio untuk para freelancer selanjutnya adalah buat desain yang sederhana, namun dapat mengandung informasi-informasi penting yang memang ingin kamu sampaikan. So, jangan bertele-tele, ya!

3. Buat Kategori di Portfolio

Membuat beberapa kategori di portfolio akan sangat membantu pembaca, loh. Klasifikasikan hasil karya atau projectmu ke dalam beberapa kategori dan berikan deskripsi yang baik untuk setiap kategori. Selain akan membuat portfolio-m lebih rapih dan tertata, pembaca jadi merasa nyaman juga.

4. Testimoni Klien dan Referensi

Tips portfolio untuk freelancer berikut ini sangat penting untuk dilakukan. Jangan lupa untuk mencantumkan testimoni klien di dalam portfolio-mu, ya! Testimoni akan sangat membantu para calon klien untuk menilai kemampuanmu. Selain itu, kamu juag bisa mencantumkan halaman referensi dari klien yang pernah bekerja sama dan puas dengan pekerjaan atau layanan yang sudah kamu berikan.

Baca Juga: Kerja Full Time? Tapi Pengen Jadi Freelancer? Bisa Banget!

5. Lampirkan Sertifikasi

Selain testimoni dan referensi, sertifikasi juga tak boleh ketinggalan untuk dicantumkan di portfolio. Sertifikasi atau lisensi yang resmi seperti dari Microsoft atau Adobe tentunya akan menambah poin kualifikasi.

6. Perbarui Secara Berkala

Jangan lupa juga untuk memperbarui portfolio secara berkala, apalagi jika yang bentuknya website. Selain itu, kamu juga dapat meninjau kembali portfolio dan menambahkan informasi yang mungkin saja tertinggal. Sesuaikan portfolio dengan klien atau perusahaan yang kamu tuju, ya!

Nurul Hanun Asyifa

Author Since: 4 July 2022

Leave Your Comment

id_ID